Pertalite, harga sulit dan tidak irit


Pemerintah Indonesia telah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar,pertalite, dan pertamax.  Beberapa hari terakhir, masyarakat mengeluhkan BBM jenis pertalite yang mereka sebut semakin boros.  Netizen di berbagai media sosial menyatakan, sejak harganya naik mereka harus membeli lebih banyak pertalite untuk menempuh jarak yang sama.  Isu tentang pertalite yang dianggap lebih boros ketimbang pertamax menjadi hangat diperbincangkan publik.  Isu tersebut viral di media sosial setelah salah satu akun di Facebook mengunggah foto yang membandingkan produk pertalite dulu dan sekarang.  

Menteri BUMN Erick Thohir melalui staff khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menepis keras isu yang mengabarkan produk BBM jenis pertalite yang beredar sekarang telah berubah warna dan menjadi semakin boros.  Adanya media sosial membuat penyebaran berita semakin cepat, termasuk berita tentang pemakaian pertalite yang boros.  

Dalam unggahan tersebut, terlihat ada foto bensin yang ditampung dalam dua botol bekas air mineral 1 literan. Botol yang satu warna bensinnya terlihat hijau pekat, sementara disebelahnya warna bensinnya hijau pucat.Bensin yang ada didalam foto itu disebut- sebut adalah pertalite. Selain itu, pemakaian jenis BBM RON 90 ini pun dituding lebih boros dari sebelumnya. 

Anggapan BBM bersubsidi lebih boros itu dibenarkan oleh pengamat otomotif dan akademikus dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan bahwa pertamax merupakan jenis BBM yang lebih irit dibandingkan dengan pertalite. Menurutnya , hal ini tak terlepas dari kandungan oktan dalam jenis bahan bakar minyak (BBM).  Semakin tinggi mesin, maka menuntut bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi.  Pada mesin ini, bahan bakar oktan tinggi akan meningkatkan performa dan penghematan BBM.  Pertalite sendiri memiliki RON 90, yang memiliki standar internasional kimiawi serupa di seluruh dunia.  Maka dari itu, Yannes menuturkan pengguna kendaraan harus mengonsumsi BBM yang sesuai dengan peringkat oktan yang di sarankan pabrik.  

Sementara itu ,Tri yuswidjajanto Zaenuri Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung  (ITB) beberkan sejumlah dugaan yang bisa menjadi penyebab fenomena ini.  Secara tidak sadar, kenaikan harga pertalite dengan pembelian nominal yang sama tentu mengurangi jumlah literan yang didapat.  Sebelumnya pertalite dijual Rp. 7.650 / liter yang sekarang menjadi Rp. 10.000 / liter.  Salah satu faktor yang berpengaruh perubahan kandungan nilai kalor didalamnya.  Nilai kalor bisa berubah dari proses pengolahan minyak mentah di kilang menjadi nafta.  Dalam pembuatan bahan bakar, nafta yang dihasilkan terkadang bisa tinggi atau bisa rendah bergantung dari kualitas minyak mentah.  Karena spesifik nafta hasil produksi kilang berubah – ubah, maka setiap parameter spesifikasi bahan bakar dinyatakan dalam batasan minimum dan maksimum.  Pada pertalite, batasan rentang massa jenis densitas energi 715 kg / m3 sampai 770 kg / m3.  Ketika massa jenis yang didapat rendah, densitas energi yang dihasilkan tenaga yang kecil.  Inilah yang membuat konsumsi bahan bakar jadi lebih boros karena untuk tenaga yang setara butuh bahan bakar lebih banyak.  Selain dari proses pengolahan, nilai kalor juga bisa berubah akibat suhu udara dan tangki bahan bakar.  Ketika suhu meningkat, massa jenis bahan bakar akan mengembang.  Namun densitas energi yang dihasilkan bisa lebih kecil sehingga energi yang dibakar lebih rendah. 

Menanggapi hal itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menegaskan kualitas pertalite yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi di Indonesia sesuai dengan keputusan Dirjen Migas Nomor 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standard dan Mutu (spesifikasi) bahan bakar minyak jenis bensin 90 yang dipasarkan di dalam negeri.  Batasan dalam spesfikasi Dirjen Migas yang menunjukkan tingkat penguapan pada suhu kamar diantaranya adalah parameter Reid Vapour Pressure (RVP).  Saat ini hasil RVP dari pertalite yang disalurkan dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) pertamina masih dalam batasan yang diizinkan, yaitu dalam rentang 45-69 kPa. Pertalite paska kenaikan harga mudah menguap. Menurut Irto, penguapan dapat berubah lebih cepat jika temperatur penyimapanan meningkat.  

Selain itu, pertamina juga menjamin seluruh produk BBM yang disalurkan  melalui lembaga penyalur resmi seperti SPBU dan Pertashop sudah sesuai dengan spesifikasi dan melalui pengawasan kualitas yang ketat.  Sedangkan produk BBM yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan tidak disalurkan ke masyarakat. 

Untuk itu, Pertamina mengimbau agar konsumen melakukan pembelian BBM di lemabaga resmi, seperti SPBU dan Pertashop, agar produk terjamin kualitas dan keamanannya.  Masyarakat juga diimbau untuk mengisi BBM sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam buku panduan kendaraan bermotor karena pabrikan telah menyesuaikan bahan bakar yang cocok sesuai jenis kendaraan.  Tidak semua berita yang berkaitan dengan borosnya pertalite adalah berita yang benar dan dapat dipercaya.Ingatlah bahwa menyebarkan berita hoaks bisa mendatangkan sanksi hingga ancaman UU ITE.

Komentar